Rabu, 21 Desember 2016

Cuplikan Novel-Yang Terbaik yang Akan Menetap

Hello readers😉.
We meet again. Yeah, that's little part of my novel.
"Yang Terbaik yang Akan Menetap".
Tokoh utama dalam novel merasa haus untuk dekat dengan Sang Maha Pencipta Jagad Raya-Tuhan yang selalu membukakan sayap sayap kasih bagi ciptaanNya.


Langit...
Bolehkan kuminta waktumu sejenak?
Aku hanya ingin berbincang.
Aku tidak memintamu berkata sepatah katapun, jika saja segala ucapanku memang membuatmu buntu untuk berfikir, terlebih berkata-kata.
Langit, kau...
Kau memayungi jagad raya kan? Bolehkah aku berandai bisa melihat segala yang dapat kau lihat dari jagad raya ini.
Langit, apa yang dapat kau ceritakan padaku tentang apa yang kau lihat?
Aku ingin mendengar dan cukup menginterpretasikan dalam imaginasiku semampu gambaran itu dapat terbayang.

Aku terdiam kemudian menundukkan kepalaku dan didalamnya terlintas aku berandai. Langit berbicara padaku.

"Hei. Tentu saja, sedikit kuceritakan. Aku melihat seuluruh jagad raya sebagaimana yang kau katakan. Aku menyaksikan setiap waktu dari segala sudut jagad raya. Tuhan, Dia membuat kami ada sebagai bagian terbesar tak hingga besarnya. Bentuk kebesaran yang Ia ciptakan dan manusia dapat sedikit melihatnya-melihat kebesaranNya".

Kuangkat kepalaku dan kudongakkan kepalaku
"Lalu, maukah kau bersatu doa bersamaku? Aku...
Aku tidak cukup bisa memahami perasaanku saat ini. Saat aku pergi ke tempat peribadatan sore ini, mataku terasa berat. Terasa berat menahan air mata yang entah mengapa ingin mwngucur begitu saja. Bibirku berucap bahwa aku sangat merindukanNya-rindu dalam pelayananNya, bersatu bersamaNya, rindu berada di dekatNya", ucapku dengan menahan isakan yang begitu berat di dada.

"Kau menangis. Tentu saja, mari kita berdoa kepadaNya", katanya.

"Te.. teriimmakasih...".




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar